HAKIKAT WANITA: ANTARA GENDER DAN KODRAT (Artikel 1 – Buletin KARIM SALMAN edisi 9)
6 Mei 2010 pukul 9:39 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentarHAKIKAT WANITA: ANTARA GENDER DAN KODRAT
Artikel 1 – Buletin KARIM SALMAN edisi 9
Oleh Teh Ratih K.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. ” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Diatas adalah penggalan surat dari R.A Kartini kepada salah satu sahabatnya. Jelas bahwa R.A Kartini hanya menginginkan akses pendidikan lebih mudah bagi kaum perempuan, agar kaum perempuan lebih “mumpuni” dalam melakukan tugas dan menjalani kodratnya. R.A Kartini saat itu menyadari bahwa untuk membangun keluarga hebat, yang mampu mencetak manusia berkualitas tinggi, perlu tenaga pendidik berkualitas tinggi pula. Pendidik manusia pertama kali ketika dilahirkan ke dunia adalah ibu. Ibulah yang pertama kali dilihat sang anak, ketika matanya terbuka.
Jika dicermati kembali, apa yang diperjuangkan Kartini, sangat berbeda dengan isu yang diusung oleh kaum feminis modern. Emansipasi wanita diartikan sebagai persamaan peran gender. Peran gender adalah peran yang timbul dari norma dan tatanan sosial budaya di masyarakat. Peran gender bisa bergeser sesuai dengan perkembangan masyarakat. Jika zaman dahulu perempuan menjadi supir angkutan adalah hal yang tidak lazim, sekarang hal tersebut bukanlah hal yang aneh.
Terdapat perbedaan antara isu gender dan isu kodrat. Apa yang diperjuangkan oleh kartini pada saat itu, lebih mengarah kepada isu kodrat. Kartini menginginkan pendidikan bagi perempuan agar perempuan memiliki kapasitas memadai untuk menjalani kodrat (peran yang diberikan oleh Allah swt.) sebagai wanita. Sebagaimana laki-laki juga memiliki akses yang luas untuk mengenyam pendidikan, yang salah satunya digunakan untuk menjalankan kodrat mereka sebagai laki-laki. Sedangkan kaum feminis, memperjuangkan kesetaraan dalam peran sosial, yang berujung pada kesetaraan profesi dan hak atas sumber-sumber ekonomi. Jika laki-laki bisa menjadi montir, maka perempuan, selama dia punya kapasitas, bisa juga jadi montir.
Perjuangan Kartini bertujuan untuk menjadikan perempuan mitra sejajar laki-laki. bukan berarti menjadi pesaing laki-laki dalam karir. Tapi perempuan, dengan segala kemampuan dan kecerdasannya, mampu mendukung laki-laki memenuhi kodrat sebagai pemimpin, baik dalam keluarga maupun skala yang lebih besar. Laki-laki yang “besar” selalu membutuhkan perempuan yang juga”besar”. Sejarah telah membuktikan, selalu ada perempuan dibalik kesuksesan laki-laki. Khadijah RA. dibalik Nabi Muhammad SAW, Soelami Soejoed dibalik kesuksesan Bob Sadino, Lina Teguh dibalik Mario Teguh, dan masih banyak cerita sukses perempuan lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist “Sesungguhnya wanita itu adalah pendamping pria” (HR Ahmad dan Abu Daud). (RK)
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.